Kamis, 05 September 2013

Dia

dia,
dia bukan seperti dia yang lain, dia adalah rindu yang masih bertahan setiap malam, rindu yang meneteskan embun dikala pagi datang.

dia,
adalah sesuatu yang mendobrak masuk ke dalam kepala tanpa permisi, lalu memenuhi isi kepala, diam cukup lama.

dia,
sosok yang dipertemukan waktu, waktu pertama kali aku menatapnya, seketika itu bayangnya membekas jelas di panca inderaku.

dia,
adalah alasanku enggan pulang, setiap kami duduk berdua pada sebuah cafe dimana kami biasa menghabiskan senja, setiap pulang kerja.

dia,
adalah awal yang harus berujung, yang enggan kusebut akhir dalam kisah ini, karena akhir terlalu selamanya tuk kuakui meski kupahami.

dan dia,
bukan tak ada yang lebih baik dari dia, hanya saja tak ada yang seperti dia. tak akan ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar