Rabu, 09 Januari 2013

Mataku

Jam telah menunjukan pukul 2 pagi tapi mata ini masih enggan tuk terpejam, sepertinya mataku masih berharap tuk menyaksikan kehadiranmu atau sekedar membaca pesan singkat darimu. Mungkin mataku telah lupa bahwa kau juga telah melupakanku.

Awalnya
Dulu mataku pernah menjadi organ terhebat saat menemukan matamu dalam keramaian, saat kita saling menatap dan kau menghadiahkan senyum termanis yang pernah mataku terima. Disusul indera perabaku yang menyentuh tanganmu, kita bersalaman.

Kini mataku merasa payah, tatapannya gagal, kosong ke segala penjuru arah. Karena ia tak berhasil menemukanmu, dan tiap tetes air yang ia keluarkan adalah karena ia lelah dalam pencariannya.

''Melihatmu dalam pejaman mata, bersamamu dalam gelap''.

Minggu, 06 Januari 2013

Mimpi


Kita pernah menjadi mimpi indah saat bibirmu menyebut kita dalam doa, saat kau mengajariku melawan gelap tanpa takut lenyap, menahan angin tanpa merasakan dingin, tenggelam dalam laut tanpa takut susut.

Pahamilah
pada engkau yang bertamu pada setiap mimpi
bukan kenyataan yang harus terwujud yang aku rindukan
tapi doa dan harapan semoga bahagia yang kau dapatkan

Bersamanya, sayang..

Nona manis

Apa yang kau lakukan diluar sana nona?
Masuklah, hujan akan segera turun
Langit mulai gelap
Mendung menyelimuti awan

Jangan terlalu lama nona
Ayah dan ibumu ada di dalam, mereka menunggumu
Telah ku siapkan teh hangat untukmu
Teh yang manis, seperti bibirmu

Untuk apa kau berlama-lama diluar?
Menunggu yang tak datang?
Yang telah pergi tak kan kembali, nona
Kecuali kembali hanya untuk menyakiti, lagi

Nona, masuklah
Aku tak ingin kau sakit
Diluar terlalu dingin
Biar kuhangatkan kau dengan teh manisku..

Sabtu, 05 Januari 2013

Aku

Adalah aku yang pagi, yang menyejukanmu dengan embun, menyebut namamu dalam doa hari itu.

Adalah aku yang senja, yang menemanimu sebelum malam, teman setiamu melepas lelah setelah siang.

Adalah aku yang udara, yang kau hirup sejenak lalu kau hembuskan.

Aku tak pernah menjadi badai yang merubuhkan impianmu, aku tak pernah menjadi ombak yang menenggelamkanmu, dan aku tak pernah meninggalkanmu yang mencariku.

Hingga kini aku telah tiada,

Adalah aku yang gelap, yang hanya menjadi bayangan dibalik matahari yang menyinarimu.

Adalah aku yang dihancurkan jarak, pecah menjadi kepingan rindu yang masih ku kumpulkan.

Adalah aku yang hanya bisa merindukanmu, rindu yang kutitipkan pada waktu.

Berharap waktu mau mengerti dan mengembalikanmu padaku.